The following are the stages of making weaving and pahikung by the people of East Sumba, NTT.
I. Yarn Production/Procurement
In the past, ikat weaving thread was made from cotton. The dried cotton pods were picked and dried in the sun. The husks were removed and the seeds removed. The seeds could be removed by hand or with a tool.
To obtain cotton, artisans can source it from their own cultivation or from cotton plants growing freely in the wild. Cotton is typically planted in January and harvested in June or July, once the cotton stalks have opened. The cotton harvesting process takes place from morning until midday.
After being harvested, the cotton is spun. This is the first step in the entire ikat weaving process, producing yarn. However, these days, artisans rarely use their own spun yarn. They generally use yarn sold in stores.
The steps in the yarn spinning process are as follows:
- If the cotton to be seeded is small, the work is done by hand. This process is called lamihi, or separating the seeds from the cotton.
- Jika jumlah kapas banyak, proses pengeluaran bijinya menggunakan alat yang disebut pangari atau pengurut. Jika jumlah kapasnya banyak sekali maka proses mengeluarkan bijinya menggunakan alat yang disebut nggihu atau kincir.
- Pangari atau pengurut terdiri atas sepotong bambu dan sebilah papan. Kapas berbiji diletakkan di atas papan, kemudian bambu digulingkan di atas kapas hingga bijinya keluar.
- Nggihu atau kincir terdiri atas beberapa potong kayu bulat dan licin yang diletakkan pada dua tiang kayu. Pada bagian pinggir diletakkan sepotong kayu untuk memutar. Ketika diputar, kedua kayu bulat dan licin berputar berlawanan untuk menggulung dan memisahkan biji kapas dengan serat kapas. Serat kapas keluar ke belakang dan diambil oleh seorang yang duduk berhadapan dengan si pemutar/penggiling.
- Serat kapas yang diperoleh melalui proses lamihi maupun pangari dan nggihu lalu dijemur, kemudian dipukul-pukul dengan alat yang terbuat dari rotan yang disebut palu kamba atau pemukul.
- Setelah dijemur kembali, serat kapas tersebut diurai dengan cara dibusur menggunakan alat yang disebut pandi atau busar. Pandi dibuat dari sebilah bambu yang dilengkungkan menyerupai busur. Kedua ujungnya dihubungkan dengan tali. Kapas yang dibusur diletakkan di dalam sebuah tempat yang disebut kaliku pandi atau bakul busar.
- Serat kapas yang telah dibusur, digulung dengan sepotong kayu bulat sehingga membentuk gulungan kapas (kanuhu) yang bulat panjang menyerupai kepompong. Kanuhu yang diperoleh dipintal menjadi benang.
- Untuk memperoleh benang, kanuhu diproses dengan dua cara. Cara pertama dengan mengunakan alat yang disebut kindi, yang dibuat dari teras kayu bulat sebesar jari kelingking. Pangkal kindi dimasukkan ke dalam sebuah gelondong benang. Pintalan benang pertama diletakkan pada gelondong. Kindi diputar di atas sebuah piring (kawinga). Sementara kindi diputar, kanuhu direntangkan sampai diperoleh benang yang halus sesuai yang dikehendaki.
- Cara yang kedua adalah dengan menggunakan alat pemintal benang yang disebut ndataru atau jentera. Alat ini dibuat dari kayu, menggunakan roda yang dihubungkan dengan tali pada anak ndataru. Saat roda diputar, kanuhu direntangkan hingga diperoleh benang sesuai dengan yang dibutuhkan. Pemintalan benang dengan cara ini lebih cepat dibandingkan dengan penggunaan kindi.
- Benang yang dihasilkan dililitkan secara menyilang pada alat yang dibuat dari kayu yang menyerupai huruf I yang disebut kapala atau palang.
- Setelah dikanji, dijemur, kemudian dibuat gulungan benang (kabukulu) berbentuk bola atau oval menggunakan alat yang disebut pepangu atau pengumpar.
II. Menyiapkan Lungsin (Hemba)
Langkah-langkah dalam proses menyiapkan lungsin (hemba) sebagai berikut:
- Benang yang berbentuk bola diurai pada alat yang disebut wanggi pameningu atau pembidangan dengan ukuran panjang dan lebar sesuai ukuran kain yang ingin dibuat. Proses ini biasanya dilakukan oleh 2 orang. Untaian benang yang telah diurai atau dibentangkan seukuran kain pada wanggi pameningu disebut hemba. Wanggi pameningu adalah alat yang dibuat dari bambu atau kayu. Pada umumnya wanggi pameningu berukuran panjang kurang lebih 2 meter dan lebar kurang lebih 1 meter.
- Setelah selesai benang dibentangkan membentuk hemba maka proses selanjutnya adalah karandi rumata, yaitu mengumpulkan 8–9 helai benang yang diikat menggunakan benang kasur maupun kalita (daun pucuk gewang yang telah dikeluarkan isinya, sehingga tinggal kulit tipis dan licin).
- Setelah itu karandi dikumpulkan menggunakan tali dari daun lontar atau sejenis kulit tumbuhan pada jaman dahulu, atau tali rafia (sekarang). Tiap 1 kumpul terdiri dari 20 karandi dan untuk 1 liran membutuhkan sekitar 14 kumpul karandi. Maka diperkirakan 1 liran kain tenun ikat membutuhkan sekitar 2.520 helai benang, sehingga untuk 1 lembar kain tenun ikat yang terdiri dari 2 liran membutuhkan sekitar 5.040 helai benang. Dalam proses ini sangat dibutuhkan ketelitian dari penenun karena dalam mengurai benang pada wanggi pamening terdapat hitungan yang tidak boleh keliru yang disesuaikan dengan ukuran dan jumlah kain yang ingin dibuat. Sehingga walaupun para pengrajin ada yang tidak menempuh pendidikan formal, tetapi dalam menghitung untuk membuat tenun ikat mereka sangat cermat.
- Setelah itu dilakukan proses pandapil, yaitu menumpuk dan menyatukan beberapa liran hemba. Langkah ini dibagi menjadi dua, yaitu utu (menggabungkan 2 liran atau lebih, bisa hingga 10 liran) dan upu (menyisipkan karuma/tali panduan di antara tiap gabungan karandi dari beberapa liran).
- Langkah selanjutnya adalah kawari, yaitu merapikan dan mengurai untaian benang.
- Selanjutnya patanggi (mengencangkan), yaitu memastikan bahwa benang yang direntangkan sudah kencang pada wanggi, sebelum digambar motif.
- Langkah terakhir dalam proses menyiapkan lungsin/ hemba untuk menggambar desain kain yang ingin diwujudkan adalah karandi. Dibuatlah kolom-kolom gambar, hemba dibagi ke dalam beberapa bagian dengan cara membuat ikat karandi pada sebilah bambu. Kolom-kolom ini nantinya menjadi ruang untuk menggambar motif bagi yang menggunakan proses menggambar dan juga ruang bagi yang langsung mengikat motif tanpa proses menggambar. Ikat karandi berfungsi agar benang tidak bergeser saat sedang atau sesudah digambar motif ataupun saat diikat. Karena hemba yang di-karandi terdiri dari beberapa liran, untuk satu kali gambar dan mengikat motif akan menghasilkan beberapa kain dengan motif yang sama.
III. Pembuatan Corak/ Motif
Benang lungsin (hemba) yang telah diatur kemudian diikat untuk membuat corak yang dikehendaki. Pengikatan benang lungsin menggunakan kalita, yaitu daun pucuk gewang yang telah dikeluarkan isinya sehingga tinggal kulit tipis yang licin dan halus.
Kelebihan benang yang diikat dengan kalita adalah tidak dapat ditembusi cairan. Namun, kekurangannya menyebabkan menipisnya kulit ibu jari dan telunjuk tangan kanan yang harus dibasahi dengan air dan terus bersentuhan dengan kalita. Dewasa ini, benang lungsin diikat dengan tali rafia yang mudah diperoleh di toko, tetapi kekurangannya benang lungsin yang telah dicelup zat pewarna tidak mudah kering dan benang rapuh serta mudah putus.
Pengerjaan pembuatan tenun ikat yang semula merupakan monopoli wanita dan penuangan corak berdasarkan imajinasi pengrajin, dewasa ini dikerjakan pula oleh laki-laki. Corak yang dikehendaki pun digambar terlebih dahulu dengan sketsa pensil berwarna.
Secara umum langkah-langkah pembuatan corak/motif adalah sebagai berikut:
- Langkah pertama adalah menggambar. Proses ini hanya bisa dilakukan oleh mereka yang ahli menggambar motif di atas untaian benang (hemba). Perlengkapan yang diperlukan adalah pensil merah-biru, mistar, dan wadah kecil berisi air. Motif gambar bisa hasil imajinasi seniman atau berdasarkan gambar dari pemesan. Tetapi, ada pula pengrajin yang tidak melakukan proses menggambar, tetapi langsung mengikatkan kalita pada hemba untuk membentuk motif. Hal ini dikerjakan oleh pengrajin yang memang sudah ahli, sehingga meski tidak digambar terlebih dahulu, corak yang dihasilkan tetap rapi dan bagus.
- Langkah selanjutnya adalah mengikat hemba untuk motif yang nantinya berwarna putih. Ada yang menyebut proses ini dengan sebutan hondung, ada pula yang menyebutnya paingu. Tujuannya agar saat dicelup warna biru, motif yang ditutup tali tidak terkena pewarna biru. Untuk mengikat hemba bisa menggunakan kalita (tali dari daun gewang) atau tali rafia. Kalita harus diikat dengan kuat agar tidak ada rembesan warna yang lain pada motif yang berwarna putih tersebut. Pada proses pewrnaan kain Sumba selalu diawali dengan memberi warna biru, kecuali untuk kain yang tidak menggunakan warna biru. Proses mengikat hemba dilakukan pada alat yang disebut wanggi paingu.
- Langkah selanjutnya adalah mengikat hemba untuk motif yang akan diberi warna merah, sehingga saat dicelup warna biru, bagian yang telah diikat tidak akan terkena pewarna biru. Proses ini disebut topu rara. Saat melakukan hondung dan topu rara, harus dibedakan simpul ikatannya agar saat pengrajin yang bertugas mewarnai kain tidak melakukan kesalahan dalam urutan membuka ikatan, dan mengikatkan kalita yang baru dalam proses pewarnaan selanjutnya. Sedangkan untuk corak yang berwarna hitam dihasilkan dengan cara terlebih dahulu dicelupkan ke dalam ramuan pewarna biru kemudian dicelupkan lagi ke dalam ramuan pewarna merah. Jadi warna hitam merupakan hasil dari corak warna biru yang ditimpa dengan warna merah. Untuk menghasilkan warna hitam terbaik, proses pencelupan pada ramuan pewarna biru harus menghasilkan warna biru yang pekat. Proses mengikat motif yang berwarna biru dan hitam disebut hondung mau.


