IV. Pewarnaan
Setelah corak selesai diikat, benang-benang lungsin/hemba tersebut dicelup dalam zat pewarna yang dihasilkan dari ramuan bahan alami. Tidak hanya benang lungsin yang dicelup kedalam zat pewarna alami tetapi juga benang pakan atau benang pamawang, yaitu benang yang akan dimasukkan/disisipkan melintang pada benang lungsin/hemba memerlukan bahan pewarna sesuai warna yang diinginkan. Biasanya digunakan warna biru, hitam dan merah. Prosesnya pun sama dengan proses pewarnaan pada benang lungsin/ hemba. Masing-masing bahan pewarna direndam dalam wadah tersendiri, pada zaman dahulu menggunakan wadah periuk tanah. Adapun langkah-langkah dalam proses pewarnaan adalah sebagai berikut:
- Proses mewarnai tenun ikat selalu didahului dengan memberi warna biru. Untuk memperoleh warna biru, bahan pewarna alami yang digunakan adalah tanaman wora atau tarum atau nila (Indigo tinctoria). Bagian yang diambil dari tanaman ini adalah daunnya. Rendaman daun dicampur wai awu atau abu dapur dan kapur sirih, untuk memperoleh warna biru muda, biru tua, dan hitam. Khusus untuk memberi warna hitam ada yang melakukannya dengan cara mencelupkan motif yang berwarna biru tua/pekat ke dalam ramuan pewarna merah. Pekerjaan mewarnai dengan rendaman daun wora atau tarum atau nila disebut nggilingu. Pelakunya disebut manggilingu. Untuk menghasilkan warna biru yang pekat sebaiknya proses pewarnaan dilakukan dilakukan pada bulan Januari hingga April saat curah hujan tinggi karena saat musim hujan tanaman wora tumbuh dengan subur dan kualitasnya sangat baik. Secara umum proses pencelupan kedalam ramuan daun wora dilakukan sebanyak 4 kali. Tetapi pada sentra tenun ikat Kanatang yang merupakan daerah yang terkenal dengan tenun ikat berwarna biru (Kawuru) yang paling berkualitas karena warnanya sangat pekat/ tua, proses pencelupan warna biru bisa dilakukan hingga 12 kali. Dalam proses pencelupan warna biru, hemba yang sudah diikat direndam selama kurang lebih 1 jam, setelah itu diperas dan dijemur seharian sampai benar-benar kering dan proses ini dilakukan selama kurang lebih 12 kali. Ketika diperas harus sesuai dengan arah ikatan kalita agar tidak merusak ikatan yang menyebabkan merembesnya warna biru pada motif warna merah dan putih. Jadi waktu yang dibutuhkan untuk proses nggiling sendiri kurang lebih 12 hari jika dalam cuaca panas tetapi jika mendung bisa mencapai 2 minggu. Dan tidak boleh terkena embun dimalam hari karena akan timbul bintik-bintik. Dulu proses nggilingu hanya dilakukan oleh perempuan saja. Ada pantangan-pantangan yang tidak boleh dilanggar agar menghasilkan warna biru yang baik, dimulai dari proses memotong tanaman wora sampai pada proses pencelupan. Jika dilanggar, warna biru yang dihasilkan tidak akan berkualitas. Pantangan itu antara lain perempuan yang melakukan proses nggilingu harus dalam suasana hati yang gembira, tidak dalam masa menstruasi, dan tidak menyentuh mayat. Dan ada tempat khusus yang hanya boleh dimasuki oleh orang yang melakukan proses nggilingu. Tetapi saat ini proses nggilingu tidak lagi hanya dilakukan oleh kaum perempuan saja, tetapi juga sudah dilakukan oleh kaum pria.
- Katahu mahu, yaitu proses setelah pencelupan warna biru. Pada proses ini ikatan untuk motif yang direncanakan berwarna tua dibuka. Biasanya setelah mencelup ke dalam ramuan daun nila/wora sebanyak 1 kali pencelupan untuk memperoleh warna biru muda, ikatan untuk motif yang direncanakan berwarna biru tua dibuka, sedangkan untuk motif yang berwarna biru muda diikat.
- Puha mahu. Hemba kembali dicelupkan ke dalam pewarna biru pada umumnya 4 kali, sehingga mendapatkan warna biru yang jauh lebih tua/pekat.
- Katahu parara, yaitu tahapan setelah selesai proses pencelupan warna biru dan hemba dijemur selama beberapa hari sampai benar-benar kering. Semua ikatan pada motif yang nantinya berwarna merah dibuka, sedangkan motif/ corak yang berwarna putih tidak dibuka.
- Hondung mau. Terdapat 2 jenis hondung mau, yaitu hondung mau kangurak dan hondung mau matua. Ini adalah proses pengikatan kembali benang-benang yang kelak menjadi motif yang dikehendaki menjadi berwarna biru muda (mau kangurak) dan biru tua (mau matua) agar ketika dicelup pewarna merah nanti warnanya tetap biru. Kecuali untuk corak/motif yang berwarna hitam tidak diikat kembali. Motif yang akan diberi warna hitam dimana telah terlebih dahulu diberi warna biru tidak perlu diikat karena saat dicelup ke ramuan kombu motif tersebut akan menjadi warna hitam. Dan untuk mendapat warna hitam dengan kualitas baik maka warna biru yang diperoleh pun harus warna biru yang pekat/ tua.
- Pra-peminyakan. Hemba dicuci hingga benar-benar bersih untuk menghilangkan sisa warna biru, lalu dijemur hingga kering.
- Kawilu atau dikenal dengan nama perminyakan. Sebelum dicelup ke dalam ramuan kombu, hemba dicelup ke dalam ramuan kemiri dan daun/kulit dedap yang ditumbuk halus hingga menghasilkan minyak. Lama pencelupan kurang lebih selama 1 hingga 2 malam dan selanjutnya dijemur sampai kering selama beberapa hari. Lama penjemuran kurang lebih selama 1 hingga 2 minggu, tergantung cuaca. Tujuan hemba dicelup ke dalam ramuan kemiri dan daun/kulit dedap adalah untuk mengikat atau memudahkan lekatnya warna merah pada benang dan menghasilkan warna merah yang terbaik menyerupai merah bata.
- Penjemuran. Setelah dicelup dan terkena ramuan kemiri secara merata, hemba dijemur dan diangin-angin kurang lebih selama 1 hingga 2 minggu, tergantung cuaca. Setelah cukup lemas dan tidak kaku, berarti hemba siap dicelup ke dalam pewarna merah.
- Kombu. Untuk memperoleh warna merah digunakan akar kombu atau mengkudu (Morinda citrifolia). Akarnya yang berukuran kecil menghasilkan warna merah yang lebih baik. Mengkudu yang digunakan adalah mengkudu berdaun kecil dan buah kecil. Akar mengkudu dicampur kulit dan daun loba (soka) yang ditumbuk untuk memperoleh warna merah. Proses penghancuran sendiri menggunakan lesung. Akar kombu setelah dipotong/dicincang kecil – kecil lalu dimasukkan ke dalam lesung dan ditumbuk menggunakan alu, kemudian dicampur kulit dan daun loba, lalu airnya diperas. Proses mewarnai untuk warna merah dilakukan dengan cara mencelupkan hemba ke dalam ramuan kombu, proses ini dapat dilakukan berulang-ulang untuk mendapatkan warna yang diinginkan, tetapi secara umum dilakukan 2–3 kali pencelupan/ perendaman. Satu kali pencelupan/perendaman memakan waktu 1–2 malam. Setelah itu dijemur hingga benar-benar kering. Berbeda dengan proses nggiling, proses kombu sendiri sebaiknya dilakukan pada bulan Agustus hingga Oktober pada saat musim kemarau. Pekerjaan mewarnai dengan rendaman akar mengkudu disebut kombu, pelakunya disebut makombu. Di Desa Kaliuda, Kecamatan Pahunga Lodu, setelah benang kering masih dilakukan pamburungu, yaitu pengembunan sampai pagi hari dan keesokan harinya dijemur sampai kering lagi. Pengembunan dilakukan sampai dua kali. Setelah kering, diperam (pabudu) selama kurang lebih dua minggu. Proses pengembunan dan pemeraman inilah yang membedakan produk kain Kaliuda yang menghasilkan warna merah yang sangat menyolok bila dibandingkan dengan produk kain di wilayah lain.
- Membuka ikatan motif. Setelah hemba dijemur hingga benar-benar kering, semua ikatan motif dibuka (katahu) dan diatur pada alat yang disebut wanggi yalah untuk selanjutnya masuk dalam proses tinung/ menenun.


