Proses Pembuatan Tenun Ikat dan Pahikung

V. Menenun

Bila proses pewarnaan benang lungsin (hemba) telah selesai, pekerjaan selanjutnya adalah menenun (tinung). Proses menenun dikerjakan oleh wanita yang pandai menenun. Umumnya pekerjaan menenun diserahkan pada wanita lain dengan imbalan jasa atau pajaungu. Sebelum menenun, semua peralatan menenun dipasang pada tempatnya masing-masing.

Peralatan tradisonal yang dibutuhkan dalam menenun kain Sumba sebagai berikut:

  1. Wunangu atau kakap atau sisir, yakni sebatang kayu bulat sebesar ibu jari tempat benang-benang tenun ikat dengan benang yang lebih besar dan kuat. Alat inilah yang digerakkan naik atau turun untuk memasukkan hawuluru (tempat benang pakan) dan kalira (belira) untuk menekan pakan agar hasil tenunan rapat.
  2. Nguada atau pesa, yakni alat yang terbuat dari sebatang kayu bulat, letaknya dekat dengan sisir. Pada saat sisir diangkat, ngoda ditekan untuk memperlancar masuknya hawuluru dan kalira pada benang tenunan.
  3. Rada (penindih), yakni sebilah bambu dengan panjang 1 meter, lebar 2 cm. Fungsinya untuk menindih benang tenunan yang telah diangkat dengan sisir agar benang-benang tenunan tetap rata.
  4. Kalira (belira), yakni alat yang terbuat dari teras kayu keras (kayu asam atau cemara), dibuat sedemikian rupa agar tetap licin permukaannya dengan digosokkan lilin. Bentuknya menyerupai parang, panjang 140 cm, lebar 7–9 cm. Cara penggunaannya dihentakkan dari muka ke belakang agar benang pakan merapat.
  5. Hawuluru (pelingkar), yakni alat yang terbuat dari sepotong kayu bulat berdiameter sebesar jari tengah, panjang 60 cm. Berfungsi sebagai tempat menggulung/melingkarkan benang pakan supaya memudahkan waktu menenun.
  6. Lawadi (pengikat), yakni sebilah bambu yang panjangnya sesuai lebar kain dan berfungsi sebagai tempat mengikat benang lungsin, sebagai tempat mengawali proses kegiatan menenun.
  7. Tuka (pengencang), yakni sebilah bambu yang kedua ujungnya diruncingkan dan disangkutkan pada pinggir kiri dan kanan kain dengan tujuan untuk mengencangkan tenunan.
  8. Tandai ndingi, yakni tiang dari kayu yang ditanam, tempat menggantung wanggi yang ada benang lungsinnya
  9. Ndingi, yakni bambu tempat tambatan benang-benang lungsin. Kedua ujung bambu itu dibelah-belah sehingga menimbulkan bunyi berirama waktu menenun;
  10. Kawihu ndingi, yakni pengikat ndingi dan tandai ndingi, berupa tali yang kuat;
  11. Kanoru, yakni alat yang terbuat dari pelepah enau atau bambu atau kayu bulat yang dimasukkan pada bagian atas benang lungsin untuk memperlebar pemisahan sehingga lungsin atas dan lungsin bawah tidak berdempetan satu sama lain;
  12. Polu, yakni bambu tempat menyangkutkan lungsin bawah yang diletakkan di atas pangkuan penenun dan juga berguna untuk memisahkan kedua bagian lungsin tersebut;
  13. Liu, yakni alat yang terbuat dari kayu. Bagian tengahnya dilebarkan sebagai tempat sandaran pinggang penenun;
  14. Kawihu liu, yakni tali penahan belakang, disangkutkan pada polu dan liu yang berguna untuk mengencangkan benang-benang lungsin;
  15. Handayangu, yakni kayu bulat sebesar ibu jari kaki yang diletakkan di atas tandai ndingi kiri kanan;
  16. Kaduduhu, yakni alat tempat menyorong kalira turun naik pada waktu menenun;
  17. Tarini, yakni kayu bulat yang ditahan dengan tiang, tempat penenun menekankan kaki ketika menenun kain, juga berguna untuk mengencangkan atau mengendurkan kain.

Setelah seluruh alat menenun dipasang pada tempatnya masing-masing, dilanjutkan dengan proses menenun yang biasanya hanya dikerjakan oleh perempuan.

Adapun langkah-langkah dalam proses menenun adalah sebagai berikut:

  1. Biara. Memisahkan tiap liran yang sebelumnya (saat pewarnaan) digabung menjadi satu.
  2. Walah. Membentangkan hemba pada wanggi (struktur bambu) yang sebelumnya telah dipisahkan lewat proses biara dan merapikan posisi motif seperti ketika awal menggambar desain.
  3. Tidihu. Merapikan motif, hemba yang telah dibentangkan di wanggi dirapikan posisi tiap karandi agar membentuk motif yang sudah didesain sebelumnya.
  4. Mengkarandi kembali. Mengikat karandi pada sebilah bambu agar benang tidak bergeser saat sebelum dan saat sedang ditenun.
  5. Kanji atau kawu. Pengolesan ramuan kanji pada hemba agar kaku saat ditenun. Setelah itu hemba dijemur hingga kering.
  6. Kawari. Memisahkan tiap karandi yang menempel dengan menggunakan tangan karena untaian benang setelah diolesi ramuan kanji saling melekat satu sama lain.
  7. Hira. Memisahkan untaian benang yang masih melekat di bagian atas dan bawah.
  8. Hura. Memisahkan tiap helaian benang yang masih melekat dengan menyelipkan sebilah bambu tipis yang berujung runcing di antara helaian benang. Kemudian diakhiri dengan diselipkannya sebilah bambu panjang sebagai alat bantu untuk membuat pawunang.
  9. Pawunang. Membuat benang panduan yang digunakan untuk memasukkan kayu wunang saat proses menenun.
  10. Hawulur pamawang. Benang pakan untuk tenun disiapkan dengan digulung pada sebilah tongkat yang dinamakan pamawang. Benang tersebut telah terlebih dahulu melalui proses pewarnaan dengan cara direndam pada ramuan tumbuhan sesuai dengan warna yang diinginkan. Proses pewarnaannya sama persis dengan proses pewarnaan benang lungsin/hemba.
  11. Parabat. Proses dimasukkannya sebilah bambu tipis (kambilla patu) disela-sela benang sebagai pertanda dimulainya proses tenun.
  12. Tinung/tenun. Proses menenun hanya dilakukan oleh perempuan. Untuk menenun 1 liran biasanya butuh waktu sekitar 2 hari ( jika dikerjakan intensif ) atau 4–5 hari ( jika dikerjakan sambil mengurus keluarga). Umumnya pekerjaan menenun diserahkan pada wanita lain dengan imbalan jasa atau pajaungu. Untuk kain kombu imbalan jasa menenun sekitar Rp200.000/liran, sedangkan untuk kain kawuru sekitar Rp150.000/liran.
  13. Katahu wunang. Yakni tahap akhir dari proses menenun yang ditandai dengan dipotongnya benang/tali wunang.
  14. Menjahit. Menjahit dua liran kain dengan motif yang sama untuk disatukan menjadi selembar hinggi, yaitu kain tenun ikat yang digunakan sebagai pakaian tradisonal bagi laki-laki. Begitu pun untuk menjahit lawu, yang merupakan kain sarung yang digunakan sebagai pakaian tradisonal perempuan, dengan cara menjahit menyatukan tepian lau (kain sarung). Umumnya ada 3 teknik menjahit, yaitu tulang ikan, uttu tepu, dan uttu hiru.
  15. Kabakil. Ujung kain bagian atas dan bawah yang berupa untaian benang ditutup dengan teknik tenun horizontal ( diametrik terhadap arah tenun seluruh kain sebelumnya ). Benang yang dipakai untuk menenun kabakil biasanya melalui proses pewarnaan tersendiri dengan menggunakan bahan pewarna alami dengan desain dan kombinasi warna tersendiri yang disenadakan dengan warna dan motif kain yang hendak diproses kabakil.
  16. Pelintir/puti. Biasa dilakukan oleh laki-laki, untaian benang pada ujung kain dirapikan dengan cara dipelintir menggunakan tangan.
  17. Wari rumata. Langkah terakhir dalam proses pembuatan tenun ikat. Menggunakan kayu yang bernama wari, rumbai yang telah dipelintir kemudian dihaluskan.

Sedangkan proses pembuatan Sarung atau Lawu dan Sarung Songket atau Lawu Pahikung/ Lawu Pahudu melalui tahap-tahap sebagai berikut:

  1. Penyiapan Benang
    Benang yang digunakan hasil pintal dari kapas atau pahuduru atau menggunakan benang buatan pabrik. Dibuat gulungan benang bentuk bulat sebesar tinju atau bola kasti yang disebut kabukulu. Jumlah kabukulu disesuaikan dengan kebutuhan.
  2. Pameningu (mengatur lungsin)
    Benang lungsin diatur atau pameningu pada alat yang disebut wanggi (pembidangan). Panjang dan lebar sesuai yang dikehendaki.
  3. Pababatungu (tenun awal)
    Saat pengaturan benang lungsin dengan memasang alat-alat yang diperlukan untuk mempermudah proses songket atau hikung. Setelah alat-alat yang diperlukan terpasang pada tempatnya masing-masing, proses pababatungu selesai.
  4. Hikungu (songket)
    Sarung tenunan direntangkan lagi pada wanggi patangngi yang ditahan dengan tali. Lidi yang telah disiapkan dipasang untuk membentuk gambar yang dikehendaki. Sarung tenun dikembalikan pada alat tenun seperti pada proses pababatungu dengan menyiapkan alat tambahan, yaitu kayu palambang pahudu kurang lebih 20 batang, wunang bakul untuk songket atau pahudu.
  5. Menenun
    Proses menenun sarung songket (lawu pahudu) berbeda dengan menenun kain ikat (hinggi). Pada proses menenun sarung songket, sambil menenun, lidi penentu corak diatur sesuai letak lidi penentu corak. Sambil menenun, lidi penentu corak dikeluarkan dari bawah ke atas. Artinya, satu lidi dan satu kayu palambang dikeluarkan secara beraturan. Setelah semua kayu palambang pahudu dan lidi penentu corak habis dikeluarkan, berarti selesailah proses membuat corak pada bagian pertama. Selanjutnya mulai lagi menyusun lidi penentu corak dan memasang kayu palambang pahudu dan sambil menenun lidi penentu corak dan kayu palambang dikeluarkan satu demi satu sampai selesai sehingga dengan demikian bagian yang kedua selesai. Demikian seterusnya sampai proses menenun selembar sarung songket (lawu pahudu) selesai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *